6 Juni, 2008

Pastika-Puspayoga Perhatikan Masyarakat Pantai

Karena kesibukan menjalani pofesinya, masalah kesehatan kerap diabaikan oleh kelompok masyarakat pantai. Untunglah, DPC PDI Perjuangan tidak lupa melakukan kegiatan baksos pengobatan bagi masyarakat Pantai Segara-Sanur pada Rabu (4/6) lalu.

Kelompok masyarakat pantai yang disasar antara lain kelompok nelayan pancing, jukung, kano, massage, artshop dan pedagang di kawasan Pantai Segara. Terlihat hadir di wantilan Pura Dalem Segara Agung Desa Adat Intaran Sanur antara lain kandidat gubernur Bali Made Mangku Pastika dan AA Puspayoga.

Gelar bhakti sosial kesehatan itu sendiri disambut gembira masyarakat nelayan. Mulai dari sekadar periksa tensi sampai dilakukan general check up oleh tim kesehatan DPC PDI Perjuangan Kota Denpasar. Bingkisan-bingkisan juga diserahkan untuk kelompok masyarakat pantai ini. Bahkan pada kesempatan itu juga diserahterimakan tiga kursi roda untuk warga yang membutuhkan.

Dalam kesempatan itu juga hadir anggota DPR RI Gung Rai Wirajaya, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali Cok Ratmadi, Ketua DPC PDI Perjuangan Denpasar Ngurah Jaya Negara, Camat Densel, Lurah Sanur, Bendesa Adat Sanur juga Kapolsek Densel.

Dalam kesempatan itu Pastika mengingatkan masyarakat pantai yang menjadi bagian dari komponen pariwisata ikut ‘menjaga’ Bali. “Bali bersaing dengan Langkawi, Cheju, Maladewa. Belum lagi Vietnam, Thailand dan Cina yang giat membangun pariwisata,” kata Pastika.

Menyikapi kondisi ini, Bendesa Adat Intaran Sanur menyebutkan bahwa duet Mangku Pastika-Puspayoga sangat pas dan pantas memimpin Bali untuk bersaing di pasar globar pariwisata dunia. “Yang kita butuhkan adalah pemimpion yang memperhatikan adat budaya serta yang penting adalah faktor keamanan untuk jaminan pariwisata,” kata Bendesa Adat Intaran AA Komyang Raka.

“Saya yakin Pastika mampu, sedangkan Puspayoga juga sudah membuktikan kepemimpinannya di Denpasar. Selaku walikota, Puspayoga punya kepedulian pada masyarakat,” imbuh Kompyang Raka.

10 Mei, 2008

Mega Temu Kangen Petani

Ternyata Megawati punya uneg-uneg banyak menyikapi isu krisis pangan dunia. Ketua Umum PDIP ini pun menjabarkan soal pertanian saat temu kangen bersama ratusan petani di Desa Wisata Kertalangu Denpasar, Jumat (9/5).

INDONESIA, kata Megawati, tidak seharusnya terkena dampak krisis pangan yang kini melanda dunia. Pasalnya, Indonesia disebut memiliki sumber daya alam yang bagus. Contohnya memang nyata, di Desa Wisata Kertalangu, pertanian menghasilkan produktivitas yang tinggi.
Benih padi bibit unggul MSP mampu menghasilkan lebih 10 ton gabah untuk tiap hektarenya. “Kita memang harus kembali ke alam. Pemakaian pupuk urea misalnya, justru membuat tanah subur nantinya menjadi kering,” ujar Mega.
Itulah sebabnya, Mega meminta petani juga memperhatikan sayur dan tumbuhan organik karena jenis ini adalah yang paling terbaik lantaran tidak terkontaminasi dengan kimia. Lagipula, jika petani mempedulikan tumbuhan organik maka ada nilai lebih yang didapatkan para petani karena harga tumbuhan organik yang lebih tinggi daripada anorganik.
Megawati juga menyatakan bahwa kalaupun ada kekurangan pangan sejatinya bisa disiasati dengan diservikasi pangan non beras. “Jadi jangan terfokus pada bahan pangan beras saja. Kan bisa juga menanam gembili untuk konsumsi pengganti beras,” ujar Mega yang didampingi Walikota Denpasar AA Puspayoga.
Calon Wakil Gubernur Bali 2008-2011 ini memang sengaja mengajak Megawati untuk melihat langsung desa budaya yang dikembangkan oleh Pemkot Denpasar. “Saya kira ada di luar Denpasar dan jauh, ternyata desa wisata ini ada di tengah kota Denpasar,” kata Mega kagum.
AA Puspayoga menyebutkan bahwa Desa Wisata yang berdiri di atas areal seluas 80 hektare selain ditujukan untuk melestarikan lahan pertanian juga dimaksudkan sebagai tujuan wisata. “Ada sinergi antara pariwisata dengan pertanian. Jadi desa ini adalah dari masytarakat untuk masyrakat,” jelas AA Puspayoga.
Desa Wisata ini pun dianggap Mega sangat berguna untuk tetap menjaga kelestarian alam Bali. Namun Mega juga mengingatkan agar petani juga memanfaatkan jasa BMG. “Akhir-akhir ini sering terjadi musim panen yang tidak tepat. Ini terjadi karena ada perubahan musim, oleh karena itu alangkah baiknya BMG juga bisa diajak kerjasama,” sara Mega.
Dari temu kangen ini Mega memang menunjukkan penguasannya pada bidang pertanian. Maklum, selain pernah mengenyam pendidikan di IPB Bogor, Mega juga sangat peduli dengan dunia pertanian.
Di sela-sela acara juga dibagikan bibit padi MSSP untuk beberapa desa adat. Selain itu dilakukan bakti sosial pengobatan dan pembagian kacamata gratis untuk para petani yang membutuhkan oleh Mangku Pastika-Puspayoga Center Denpasar.

9 Mei, 2008

Pedagang Pasar Badung Curhat pada Megawati

Meskipun sudah tak menjabat sebagai Presiden RI, rasa cinta krama Bali pada sosok Megawati tak pernah luntur. Terbukti saat Mega mengunjungi Pasar Badung Denpasar pada Jumat (9/5), pedagang dan pengunjung pasar berebut bersalaman bahkan ada yang memeluk putri Proklamator RI ini.

SEBAGAI seorang ibu rumah tangga dan pemimpin PDIP, Megawati memang merasa perlu memantau langsung apa yang terjadi di lapangan. Maklum, dalam beberapa hari terakhir, berbagai komoditas mulai menunjukkan indikasi kenaikan harga.

Beberapa pedagang yang disapa Megawati, mengeluhkan mulai merambatnya harga yang berakibat menurunnya pembeli. Megawati yang didampingi oleh Walikota Denpasar AA Puspayoga pun dengan sabar membesarkan hati pedagang yang antusias curhat. Rencana pemerintah menaikkan BBM pada Juni mendatang, memang memberi dampak pada kenaikan harga.

Tapi Megawati memilih bijaksana menyikapi rencana kenaikan BBM untuk ketigakalinya di era Presiden SBY ini. Mega menilai kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang tidak bisa dihindari lantaran harga minyak dunia yang terus melambung.

Hanya saja, Megawati juga mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM bukan solusi terbaik. “Sebenarnya kebijakan tersebut bukanlah hal yang tepat. Karena kenaikan harga tersebut pasti akan menambah rumit permasalahan yang ada pada rakyat kecil,” urai Mega.

Sebelum menaikkan BBM, tambah Mega, pemerintah harus memperhitungkan dampaknya bagi rakyat. Dan kenyataan menunjukkan harga-harga sudah terkerek naik menyusul isu kenaikan BBM. Lalu solusinya? “Jangan tanya saya, tanyakan ke pemerintah,” jawab Mega.

Sehari sebelumnya, Megawati juga menyempatkan diri mengunjungi Pasar Sukawati. Di pasar yang menjadi salah satu ikon wisata belanja Pulau Dewata ini Megawati juga beramah-tamah dengan pedagang. Sama dengan peristiwa di Pasar Badung, masyarakat juga antusias mendekati Mega.

Dalam sekejap kamera digital maupun handphone berkamera membidikkan sorotan pada Megawati. Bahkan tanpa segan-segan, seperti yang terlihat di Pasar Kumbasari, beberapa pedagang berebut menyalami dan memeluk Mega sebagai ungkapan cinta kepada seorang pemimpin. Dagangan pun untuk sementara ditinggalkan demi kecintaan pada sosok Megawati.

25 April, 2008

PDIP DITEROR STIGMA NEGATIF

PDIP mengalami masa-masa sulit pasca berhasil merebut kemenangan di Pemilu Legislatif dan Pilpres 1999. Suara yang diperoleh terus menunjukkan penurunan. Begitu juga kursi kepresidenan gagal dipertahankan. Bagaimana untuk Pemilu 2009 mendatang?

“We return on 2009”. Begitulah semboyan yang kini mulai dipopulerkan. Tujuannya jelas, PDIP bukan saja ingin meraih kemenangan dalam Pemilu Legislatif, namun partai rakyat ini ingin kembali mengantarkan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI 2009-2014.

Mengapa “We return on 2009”? Ya, siapapun tahu jika PDIP terus mengalami penurunan suara pasca Pemilu 1999. Bukan hanya di tingkat nasional, namun di kandang besarnya di Bali, PDIP juga mengalami penurunan dari hampir 79% suara (Pemilu 1999) menjadi sekitar 52% suara (Pemilu 2004) dan terpaksa merelakan kehilangan 9 kursi DPRD.

“PDIP banyak kehilangan suara karena stigma-stigma negatif. Jika menjelang Pemilu mendatang muncul lagi stigma-stigma semacam itu, dampaknya bakal luar biasa bagi PDIP,” pesan Ketua Deperpu PDIP Taufiq Kiemas di depan peserta Rakercab II PDIP Kota Denpasar, akhir tahun 2007.

Pertama, kata Taufiq, ada stigma yang mengatakan PDIP sebagai partai preman yang tidak karuan. Kedua, PDIP dicap sebagai partai tidak jelas. Kadang nasionalis, dan kadang abangan. Dan yang ketiga, dimunculkannya stigma PDIP sebagai partai tempat bersembunyinya PKI.

Untuk menepis stigma-stigma negatif itulah Taufiq Kiemas yang sudah 47 tahun berkecimpung di dunia politik mengingatkan kembali bahwa PDIP adalah rumah besar kaum nasionalis. Dan terkait dengan Pilkada Bali mendatang, Taufiq menyatakan kebanggaannya karena PDIP menarik banyak minat non kader untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Bali. “PDIP beruntung dengan banyaknya orang yang mengajukan diri menjadi calon gubernur lewat PDIP. Ini berarti stigma negatif hilang,” ujar Taufiq. (mao)

25 April, 2008

TIPS MENANG PILKADA

Nama besar, popularitas dan kekuatan di atas kertas bukan hasil akhir untuk mengkalkulasi hasil Pilkada. Ibaratnya, pepatah ‘bola itu bundar’, siapapun kandidatnya bisa menjungkirbalikkan hitungan di atas kertas. Terbukti, Pilkada Kalimantan Barat (Kalbar) dan Sulawesi Selatan bisa mengantar kandidat yang tidak diunggulkan.

Ya, siapa sangka, pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya (CC) bisa meraih suara terbanyak dalam Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur Kalbar periode 2008-2013. Pasangan yang diusung PDIP itu, unggul atas incumbent Usman Ja`far-LH Kadir, pasangan Oesman Sapta – Ignatius Lyong, dan pasangan M Akil Mochtar-AR Mecer.

Kemenangan CC terasa mengejutkan, karena berdasar survei maupun kalkulasi lainnya, pasangan ini sulit menang. Maklum, pasangan yang direkomendasikan DPP PDIP ini berkomposisi unik. Cornelis adalah seorang Katholik, sedangkan pasangannya adalah seorang Tionghoa beragama Budha.

“Pasangan ini berhasil melakukan revolusi pemikiran di Indonesia,” puji Taufiq Kiemas, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP. Karena merasa penasaran Taufiq pun mengaku sudah menanyakan resep keberhasilan pasangan gado-gado yang tak diunggulkan ini. Hasilnya?

“Mereka menang karena dalam kampanyenya menjanjikan kenyamanan senyaman-nyamannya jika menang,” begitu cerita Taufiq yang akhir tahun lalu merayakan ulang tahunnya di Pulau Dewata.Kemenangan pasangan Yasin Limpo dan Agus Arifin (meskipun kemenangannya terpaksa tertunda lantaran perintah MA agar dilaksanakan pemilihan ulang, RED), di Sulsel juga tak lepas dari janji memberi kenyamanan terhadap rakyat. “Kenyamanan sangat penting daripada bicara janji-janji pembangunan,” ujar Taufiq. “Kalau janji pembangunan…presiden saja tidak tepat,” imbuhnya.

Kenyamanan, sebut Taufiq, bisa menjaga Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan dan Bhinneka Tunggal Ika. Faktor kenyamanan itu pula yang diperlukan untuk Denpasar. “Denpasar itu sangat heterogen. Jadi soal kenyamanan sangat penting. Dan yang bisa jaga adalah PDIP. Begitu juga di Indonesia, yang bisa jaga juga PDIP,” kata Taufiq Kiemas. (mao)

22 April, 2008

Mangku Pastika Beber Alasan Menjadi Cagub

Pastika didampingi Puspayoga larut bersama warga

Pengalaman pahit masa kecil menjadi salah satu bekal Made Mangku Pastika mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Bali 2008-2013. Berpasangan dengan AA Puspayoga, kandidat yang diusung PDI Perjuangan ini bertekad menuju Bali Mandara (Maju, Aman, Damai & Sejahtera). Kisah ini diungkapkan Mangku Pastika dalam mesimakrama di Jaba Puri Agung Jero Kuta Jl Dr Soetomo Denpasar, Senin (14/4).

Mangku Pastika yang menjadi tokoh penting pengungkapan teror Bom Bali mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh kegetiran. Ketika Gunung Agung meletus, keluarganya termasuk di antara 8.000 orang yang mengungsi ke Bengkulu. Tapi pilihan transmigrasi ini penuh nestapa, karena tiap tahunnya hampir 3.000 jiwa meninggal dihantam malaria hingga kelaparan.
Untuk bersekolah, pria kelahiran Ds.Gerokgak Buleleng ini juga memprihatinkan. “Saya belajar dan menulis pakai kertas rokok. Kalau ujian barulah saya minta teman,” kenang Pastika. “Tapi itu tidak gratis, saya harus mau memberi contekan pada teman yang memberi kertas,” katanya tersenyum pahit.
Saat duduk di bangku SMA, keluarga Pastika pindah ke Palembang. Masa sulit kembali dilaluinya. Kehidupan serba pas-pasan, apalagi ayah Pastika hanyalah seorang tukang kebun, sedangkan sang ibu menjadi tukang cuci. Namun dengan tekad besar, lelaki kelahiran 22 Juni 1951 ini bisa meneruskan cita-citanya; masuk AKABRI.
“Saya perlu menceritakan kehidupan pahit ini untuk mengingatkan kesulitan hidup. Karena itulah saya memutuskan kembali ke Bali dengan harapan rakyat yang masih tertinggal, miskin, belum bisa bersekolah, belum bisa berobat dapat lebih maju dan sejahtera,” kata polisi berpangkat Inspektur Jenderal yang kini menjabat Kalakhar BNN (Badan Narkotika Nasional).
Konsep Bali Mandara (Maju, Aman, Damai & Sejahtera) itul;ah yang dianggap Pastika bisa membawa masyarakat Bali lebih baik. “Semoga dengan keberpihakan PDIP pada wong cilik, harapan ini tercapai. Karena bagaimanapun juga PDIP adalah rumah besar kaum nasionalis,” kata Pastika.
Kepedulian pada wong cilik itu pula yang ditunjukkan PDIP dengan berbagai kegiatan sosial. Seperti yang dilakukan di sela-sela mesimakrama yang diikuti komponen PDIP Denpasar Barat dan Denpasar Utara adalah diadakannya pengobatan gratis. Selain itu diserahkan pula bantuan kursi roda dan alat bantu dengar bagi warga yang membutuhkan. Selain itu diserahkan pula bantuan busana untuk Jero Mangku dan Pecalang. Bahkan secara simbolis diserahkan bantuan bibit tetanduran untuk mendukung gerakan penghijauan.